Belajar itu apa sich???
Baca buku pelajaran? Atau ngapal isi buku catatan? Atau ngeringkas buku trus buat catatan kecil?
Atau buat kertas kecil yang ada tulisan kecil2 untuk ujian?
Kira2 apa ya?
…
Sekarang yang terlintas di pikiran kamu belajar itu apa?
…
Kalau menurut aku belajar itu bukan saja Cuma baca buku trus ngeringkas buku pelajaran ataupun duduk manis mendengarkan dosen menjelaskan pelajaran.
Tapi, belajar dapat kita lakukan dengan orang2 disekitar kita,
Seperti belajar memahami, belajar mengerti, belajar menyayangi, n belajar mencintai orang2 di sekitar kita.
Sudahkah kita melakukannya???
Sudahkah kita merasa pantas untuk mendapatkan prediakt A dalam pelajaran itu???
…
Coba kita pikir dan ingat2 sejenak, saat kita duduk bersama teman kita, kita terasa haus banget, yang terlihat di depan kita ada gelas yang berisi air mineral yang barusan diteguk oleh teman kita itu.
Kira-kira kamu mau nggak meminum air dari gelas bekas mulut teman dekat kamu itu?
Mungkin sebagian dari kita tidak mau karena merasa jijik. Tapi, apakah kita pernah berfikir, apakah teman kita itu mau meminum air dari gelas bekas mulut kita?
Mungkinkah selama ini kita terlalu egois??? Yang hanya memikirkan diri kita sendiri, kita hanya berfikir akan kepentingan kita saja, atau mungkin kita terlalu Steril? Sampai2 kita harus merasa jijik dengan gelas bekas saudara seiman kita sendiri. Apakah pernah kita berfikir atau bertanya pada hati kita, apa perasaan teman kita ketika kita terang2an menolak untuk tidak minum dari gelas bekas dia?
Coba kita balikkan posisi itu pada diri kita? Apa yang kamu rasakan?
Apakah kita pernah belajar untuk mengerti akan saudara kita?
Kemudian, saat kita duduk bersila di dalam sebuah majelis, tiba2 dengan enaknya teman di sebelah kita bersila dengan menaikkan lututnya keatas lutut kita,
Mungkin disatu sisi kita merasa jengkel,dengan berkata “uh! Kenapa sich, enak betul kamu!”
Tapi, beberapa menit kemudian, tiba2 kamu melakukan hal yang sama seperti temanmu tadi, tapi temanmu malah senyum dan berusaha untuk menggeser lututnya dengan perlahan tanpa sedikitpun membuatmu tersinggung.
Coba pikir sejenak putar kembali memori otak kita pernah nggak kita melakukan hal seperti itu?
Egoiskah kita pada saudara kita!
Sudahkah kita belajar untuk menghargainya?
…
Kemudian, saat teman kita sedang asyik ngomong tentang hobinya. Eh, kita malah ngeloyor ntah kemana, nggak mendengarkan dia, dan dia dengan sabar dan pengertian untuk menanyakan kondisi diri kita. Ada apa dengan kita, dan malah mendengarkan curhat kita.
Namun, saat kita berapi2 curhat sama dia, kita memaksa dia untuk mendengarkan kita tanpa melihat dan meraba apa yang sedang terjadi pada saudara kita, apakah sedang ada masalah, atau bahkan dia memiliki masalah yang lebih rumit dari kita?
…
Ketika kita sakit, kita mengeluh dan berharap untuk diperhatikan oleh saudara kita,
Tapi ketika dia sakit, kita bahkan nggak pernah datang menjenguknya atau memberi perhatian padanya atau bahkan kita nggak tahu bahwa teman kita sedang sakit.
…
Ketika teman kita mendapatkan sebuah info BS (bea siswa) atau ilmu atau info seputar hobi kita, ia lupa menyampaikan pada kita, kita marah besar padanya,
Namun ketika kita mendapatkan info BS kita malah diam2 tidak memberitahukannya, bahkan secuil ilmu yang baru kita peroleh, kita sangat enggan untuk memberitahunya, dengan alasan takut tersaingi atau ingin pintar sendiri.
…
Mungkin masih banyak lagi cerita2 lain dalam kehidupan kita yang sering kali kita lewati untuk kita renungkan.
Mungkin dalam cerita2 di kehidupan kita, kita sering kali bertindak sebagai pemeran antagonis terhadap saudara atau teman kita!.
Mungkin dalam cerita2 yang kita lalui bersama teman2 kita, kita bahkan nggak pernah menanyakan bagaimana kondisi dia saat itu, sehatkah jasmani dan rohaninya!.
Mungkin dalam cerita2 kita dan sahabat kita, kita bahkan nggak pernah bisa mengerti memahami atau bahkan sayang dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan darinya. Seperti, kita berlaku baik ketika kita membutuhkan pertolongannya, ketika kita tidak membutuhkannya lagi, dengan mudah kita meninggalkannya, tanpa memikirkan kondisinya ataupun perasaannya.
Atau mungkin selama dalam pergaulan, kita hanya sebagai pecundang yang hanya ingin menang sendiri, pintar sendiri, kaya sendiri, soleh/ soleha sendiri, dan ingin selalu dimengerti, di perhatikan, dikagumi dan disayangi tanpa menoleh sedikitpun untuk memberikan hal yang sama pada saudara kita!
Renungkanlah wahai saudaraku, apakah kita adalah seorang yang egois, tidak mau memahami, mengerti dan tidak mau mengenal lebih dekat saudara kita???
Terimalah saudara kita apa adanya, dan ia akan menerima kita apa adanya pula. Jika kita berpikir bahwa saudara kita harus sempurna, sempatkanlah menatap diri kita dalam cermin. Apakah kita sempurna? Dengan apa yang kita dapatkan sekarang.